Rantau
Jadi beginiii, both my parents lahir di Bangka dan mereka merantau ke Bandung untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik di kampus ganesha. Berdasarkan cerita mereka yang hidup dan besar di daerah, kadang jadi berkaca dengan kehidupan ku saat ini yang sudah serba enak dan terkadang masih sering mengeluh karena belum bisa mengikuti jejak mereka tembus ITB, tapi setelah dijalani, nyatanya saya menikmati hidup di kampus yang lain, yaitu UTM sanjungan bangsa hahaha. Mungkin ini ya jatah saya, lahir dan besar di Bandung, SD-SMP-SMA selalu tinggal sama orang tua dan sekarang diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan hidup di negeri orang aka merantau.
Bicara tentang merantau sekarang mulai paham kenapa harus merantau, belum paham sih masih menjalani dan menelusuri. For the sake of seeking the goods of it, inget kutipan Imam Syafii (taunya juga dari buku 5 Menara).
Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..
Merantaulah..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang
Mungkin itu kali ya motivasi orang-orang dalam merantau. Sebenernya orang lain tuh ga perlu motivasi juga, langsung aja lakuin gausah banyak mikir dan pertimbangan. Udah kaya Ted sama Barney di How I Met Your Mother. Ted itu think, think, think meanwhile Barney do, do, do. Gila kontras banget dari Imam Syafii ke Ted & Barney.
Kembali ke Imam Syafii, yang bisa saya highlight itu kau akan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan. Sebenernya belum nemu juga, it takes time. Cuma selama satu semester di Malaysia ini akhirnya di sadarkan kalau lingkungan di Telkom itu sebenernya nikmat, baru sadarnya sekarang. Untuk Biah yang sedikit sulit untuk berteman dan picky, di Telkom merasa ga effort untuk berteman tapi dapet temen dan lingkungan yang baik. Untuk seorang introvert temenan dan bertemu orang itu butuh energi tau.
Jujur dulu Biah bodo amat sama temen karena emang senyebelin nya Biah, pasti lingkungan temen-temen itu yang akan mengerti. Memang zona nyaman ya itu. Sampe ke China pun masih bilang ah ini temenan pasti cuma pas di China aja, balik negara masing-masing pasti lupa. Ternyata kemakan omongan sendiri dan orang bisa berubah, sekarang saya yang beneran sering kontakan sama mereka sampe buat karya. Jadi selama ini yang bikin batas tuh ya diri sendiri dan semua persepsi tentang ‘orang’. Nyatanya orang ga seserem dan sejahat itu. Ada quotes bagus dari orang yang pada awalnya sangat menakutkan. Love people and they will love you back.
Ingin menertawakan diri sendiri rasanya, dulu gak peduli sama temen sekarang mikir banget tentang temen. Di perantauan ini beneran masih mencari teman yang sefrekuensi, ah sesuatu itu bakal makin ribet kalau dipikirin. Nyambung ke kata Imam Syafii, sebelum mencari pengganti orang yang ditinggalkan dan seeking lingkungan yang nyaman di perantauan, pengen belajar dulu untuk menghargai orang yang pernah kukenal sebelumnya.
Eh bentar ada quotes bagus dari Mbak Dila yang sedang berjuang juga di perantauan tentang pertemanan. Punya temen sevisi ga harus yang ada di Malaysia, bisa jadi itu temen-temen di Indonesia atau di China dulu, so stick with them, terus keep in touch. You also have your family, jadi untuk bergaul dengan teman-teman disini ‘secukupnya’ just enough for survival. Sebenernya ini juga masih proses sih untuk adapt di lingkungan Malaysia, sabar aja things take time. Alhamdulillah nya lingkungan ppi dan urban itu asik. Its getting better. Makanya I do believe Allah udah ngasih jatah peran manusia dalam porsi yang sesuai dengan tempo yang pas. Jadi ya ditakdirkan di Telkom setahun supaya pas meninggalkannya punya kesan yang bahagia bahagia aja.

Comments
Post a Comment